


Bara & Fira — Sahabat Edukasi Damkarmatan Kukar
Belimbur Erau: Tradisi, Sejarah, dan Keselamatan Bersama
Bara: “Hai, Kakak! Bertemu lagi bersama Bara dan Fira! Kali ini kita akan membahas tradisi yang sangat dekat dengan budaya Kutai Kartanegara, yaitu Erau dan Belimbur!”
Fira: “Betul, Bara! Belimbur bukan sekadar kegiatan saling menyiram air. Di dalamnya terdapat nilai adat, kebersamaan, dan makna yang perlu kita pahami serta hormati.”
Halo, Sahabat Edukasi Damkarmatan Kukar!
Pada kesempatan kali ini, kami ingin mengajak Kakak mengenal lebih jauh tentang Erau dan tradisi Belimbur, sebuah bagian penting dari rangkaian adat Kutai Kartanegara. Selain memahami sejarah dan maknanya, kita juga akan belajar bagaimana menjaga keselamatan saat mengikuti kegiatan yang melibatkan banyak orang.
Mari kita mulai perjalanan edukasi bersama Bara dan Fira!
1. Mengenal Sejarah Erau Kutai Kartanegara
Bara: “Fira, sebenarnya Erau itu sudah ada sejak kapan, sih?”
Fira: “Erau memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura!”
Erau merupakan tradisi budaya masyarakat Kutai Kartanegara yang telah berlangsung sejak masa awal Kerajaan Kutai Kartanegara. Berdasarkan catatan kebudayaan yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Erau pertama kali dikaitkan dengan upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti masih berusia lima tahun. Setelah dewasa, beliau menjadi raja pertama Kutai Kartanegara, yang memerintah pada 1300–1325.
Sumber : Referensi Kemdikbud
Dalam perkembangannya, Erau tidak hanya berkaitan dengan upacara kerajaan, tetapi juga menjadi bagian dari pelestarian adat istiadat dan budaya Kutai. Saat ini, Erau menjadi salah satu kegiatan budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Kutai Kartanegara kepada masyarakat luas.
Nama Erau berasal dari kata eroh, yang dalam penjelasan sumber kebudayaan berarti ramai, riuh, dan suasana penuh sukacita. Kegiatan Erau mencakup rangkaian ritual adat, kesenian, dan perayaan yang memiliki nilai sejarah serta kebersamaan.
Sumber : Erau Kartanegara
Fira: “Jadi, Kakak, ketika kita mengikuti Erau, kita bukan hanya menikmati keramaian, tetapi juga ikut menghargai warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.”
2. Apa Itu Tradisi Belimbur?
Bara: “Nah, kalau Belimbur itu apa, Fira?”
Fira: “Belimbur adalah salah satu prosesi penting dalam rangkaian adat Erau, yang ditandai dengan kegiatan saling menyiram air!”
Belimbur merupakan ritual penutup rangkaian Erau Adat Kutai. Dalam penjelasan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, prosesi ini berkaitan dengan penyucian diri dan harapan agar Sultan, masyarakat, serta lingkungan terhindar dari malapetaka. Air Tuli, yang diambil dari wilayah Kutai Lama, menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual tersebut.
Sumber : Kukarkab
Dalam pelaksanaannya, Belimbur memiliki makna filosofis yang lebih dalam daripada sekadar bermain air. Tradisi ini dipahami sebagai simbol pembersihan diri dari sifat buruk, ungkapan rasa syukur, dan pengikat kebersamaan masyarakat.
Pada rangkaian prosesi, Belimbur berkaitan dengan ritual Ngulur Naga. Dalam penjelasan resmi Pemkab Kukar mengenai rangkaian Erau, sepasang naga dibawa menuju Kutai Lama untuk prosesi pelarungan, kemudian Air Tuli dibawa kembali sebagai bagian dari ritual Belimbur.
Sumber : Kukarkab
Bara: “Wah, ternyata ada sejarah dan makna yang mendalam di balik air yang dipercikkan!”
Fira: “Benar! Karena itu, kita harus menghormati tradisi dan mengikuti tata krama yang berlaku.”
3. Menghormati Adat dan Tata Krama Belimbur
Belimbur merupakan tradisi yang memiliki ketentuan adat. Oleh sebab itu, setiap peserta perlu mengikuti arahan panitia dan aturan yang ditetapkan untuk pelaksanaan kegiatan.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara pernah mempublikasikan ketentuan tata krama ritual Belimbur, termasuk pengaturan lokasi dan waktu pelaksanaan. Aturan tersebut dapat berubah sesuai dengan penyelenggaraan dan titah adat pada tahun yang bersangkutan.
Sumber : Kukarkab
Fira: “Kakak, jangan menganggap Belimbur sebagai kesempatan untuk melakukan apa saja, ya!”
Berikut beberapa sikap yang perlu kita jaga:
- Menghormati adat istiadat dan prosesi yang sedang berlangsung.
- Mengikuti arahan petugas, panitia, serta ketentuan adat yang berlaku.
- Tidak mengganggu jalannya ritual atau menghalangi peserta lain.
- Menjaga sikap dan perilaku agar tetap sopan.
- Menghormati masyarakat, keluarga, lansia, anak-anak, dan peserta yang membutuhkan perhatian khusus.
Bara: “Bergembira boleh, tetapi tetap tahu batas dan menghargai orang lain!”
4. Gunakan Air yang Bersih dan Jangan Membahayakan
Dalam komik edukasi kali ini, Bara dan Fira juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan keamanan air dan cara menyiram.
Fira: “Gunakan air yang bersih, ya, Kakak! Jangan menggunakan air kotor atau benda yang bisa melukai orang lain.”
Ketika kegiatan melibatkan banyak peserta, kita perlu menghindari tindakan yang berpotensi menyebabkan cedera. Misalnya, menyemprotkan air dengan tekanan tinggi ke wajah, menggunakan benda berbahaya, atau melakukan tindakan yang membuat orang lain kehilangan keseimbangan.
Jangan menjadikan keseruan sebagai alasan untuk mengabaikan keselamatan.
Bara: “Air untuk berbagi kegembiraan, bukan untuk menyakiti!”
Perlu diingat, ketentuan teknis penggunaan air dan pelaksanaan Belimbur harus mengikuti arahan penyelenggara serta tata krama adat yang berlaku pada tahun pelaksanaan. Edukasi keselamatan ini tidak menggantikan aturan resmi acara.
5. Jaga Anak-Anak, Lansia, dan Peserta yang Membutuhkan Perhatian
Belimbur dapat menghadirkan keramaian dan interaksi antara banyak orang. Dalam kondisi seperti itu, perhatian terhadap anggota keluarga dan peserta yang rentan sangat diperlukan.
Fira: “Kalau membawa anak-anak, jangan lupa selalu mendampingi mereka!”
Orang tua atau pendamping sebaiknya memastikan anak-anak berada dalam pengawasan. Perhatikan pula lansia dan orang yang mungkin membutuhkan bantuan tambahan ketika bergerak di tengah kerumunan.
Apabila ada seseorang yang mengalami kesulitan, segera minta bantuan petugas atau panitia. Jangan memaksakan diri melakukan penyelamatan tanpa kemampuan dan peralatan yang sesuai.
Bara: “Saling menjaga membuat suasana Belimbur lebih nyaman bagi semua!”
Keselamatan tidak hanya berkaitan dengan menghindari kecelakaan, tetapi juga dengan kepedulian terhadap orang di sekitar kita.
6. Peran Damkar dalam Edukasi dan Keselamatan Masyarakat
Bara: “Fira, Damkar bukan cuma hadir saat terjadi kebakaran, kan?”
Fira: “Betul! Edukasi pencegahan dan keselamatan juga penting untuk membantu masyarakat lebih siap menghadapi risiko!”
Damkar memiliki peran dalam penanganan kebakaran dan berbagai operasi penyelamatan sesuai kewenangan serta kemampuan layanan yang tersedia. Dalam kegiatan masyarakat yang ramai, keselamatan dapat didukung melalui kewaspadaan, edukasi pencegahan bahaya, dan kerja sama dengan pihak penyelenggara.
Saat menghadiri kegiatan Belimbur atau acara budaya lainnya, masyarakat dapat ikut berkontribusi dengan cara:
- Mengikuti arahan petugas dan panitia.
- Menjaga akses yang diperlukan untuk keadaan darurat.
- Tidak menghambat kendaraan atau personel yang sedang bertugas.
- Segera melaporkan keadaan darurat melalui saluran yang tersedia.
- Menghindari tindakan yang dapat mencederai orang lain.
Fira: “Keselamatan adalah tanggung jawab bersama, Kakak!”
7. Belimbur: Kebersamaan, Penghormatan, dan Harapan Keselamatan
Belimbur mengajarkan kita bahwa sebuah tradisi dapat memiliki nilai kebersamaan dan makna yang mendalam. Air yang digunakan dalam ritual tidak hanya dipahami sebagai unsur fisik, tetapi juga memiliki makna simbolis dalam kepercayaan dan adat Kutai.
Sumber resmi pemerintah daerah menjelaskan Belimbur sebagai bagian dari ungkapan syukur, penyucian diri, serta harapan akan keberkahan dan keselamatan.
Sumber : Diarpus Kukar Kab
Bara: “Air menyatukan kita!”
Fira: “Adat kita hormati, keselamatan kita jaga!”
Mari kita rayakan Erau dan Belimbur dengan penuh suka cita, tanpa melupakan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Menjaga tata krama, menghormati sesama, dan memperhatikan keselamatan merupakan bagian dari cara kita menghargai warisan budaya.
Semoga rangkaian Erau 2026 dapat berlangsung dengan lancar, tertib, dan memberikan pengalaman yang bermakna bagi masyarakat Kutai Kartanegara.
Informasi Damkar Matan Kukar
Apabila terjadi keadaan darurat yang membutuhkan bantuan, segera hubungi layanan Damkar Matan Kukar:
Telepon Layanan
0541-661009
WhatsApp Pengaduan
0813-3595-1973
Sampaikan informasi kejadian dan lokasi secara jelas. Ikuti arahan petugas dan jangan mengambil tindakan penyelamatan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Pesan Bara & Fira
“Belimbur dengan suka cita, adat kita hormati, keselamatan kita jaga!”
Bara & Fira — Sahabat Edukasi Damkarmatan Kukar
Catatan redaksional: Sejarah Erau dan makna Belimbur dalam artikel ini disusun berdasarkan rujukan kebudayaan dan sumber resmi daerah. Jadwal, lokasi, serta tata krama Belimbur tahun 2026 tetap perlu disesuaikan dengan pengumuman resmi penyelenggara apabila tersedia.
Referensi sejarah dan adat
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan — Erau Kartanegara
- Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara — Basah Belimbur, Erau pun Usai
- Diarpus Kukar — Prosesi Belimbur Erau Adat 2025
